kajag

Nama               : Silpa Dewi Alawiyah

NRP                : I34110074

 

Kemiskinan dan ketidak merataan di Indonesia

            Program IDT atau instruksi Presiden No.5 Tahun 1993 menyangkut penanggulangan kemiskinan dilaksanakan secara resmi pada tanggal 1 april 1994. Program IDT mempunyai tiga tujuan penting : (1) untuk memicu dan menggalakan gerakan nasional bagi penanggulangan kemiskinan, (2) mengurangi disparitas ekonomi dan social didalam masyarakat, (3) mengaktifkan kembali ekonomi rakyat dengan memberdayakan kaum miskin. Para perencana dan pelaksana program telah lama menyadari pentingnya akses rumah tangga miskin terhadap kredit terutama di wilayah pedesaan.

Pemerintah juga menyadari bahwa keluarga miskin tidak saja berlokasi pada desa-desa miskin di wilayah yang terpencil dimana telah tercakup dalam program IDT, tetapi juga di tempat-tempat lain yang kurang terpencil, di tempat mana proporsi mereka mungkin kurang dibandingkan dengan mereka yang tinggal di desa-desa miskin terpencil. Pemerintah akhirnya menggabungkan program pengembangan keluarga dengan program penanggulangan kemiskinan lain, yang disebut program Takesra dan Kukesra. Dengan keputusan ini, Indonesia memperluas strategi kebijaksanaan yang diperlukan untuk memastikan keberlanjutan yang sukses dari gerakan keluarga berencana ke dalam gerakan pembangunan keluarga sejahtera. Pengembangan penduduk dan undang-undang pembangunan keluarga sejahtera menjadi aspek hukum bagi semua kebijakan dan program pengembangan penduduk dan pembanguanan keluarga sejahtera.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia begitu dahsyat. Jika pertumbuhan membaik, pasti akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan perolehan pendapatan yang akan mengurangi penderitaan kaum miskin. Pemerintah Indonesia membangun program Jaring Pengaman Sosial(JPS) yang merupakan program pemulihan masyarakat dan program pengembangan sector perlindungan social yang bertujuan membantu secara langsung rakyat yang membutuhkan. Rancangan program tersebut menuntut desentralisasi sumber daya dan proses pembuatan keputusan, keterlibatan yang kuat dari masyarakat sipil dan transparansi. Program ini juga mencangkup empat aktivitas : (1) keamanan pangan, (2) pendidikan perlindungan social, (3) kesejahteraan dan perlindungan social (4) pekerjaan umum padat karya.

 

 

Petani dan konflik agraria

Peran actor-aktor yang berkepentingan terhadap sumber daya tanah menjadi menjadi penyebab munculnya konflik agraria. Hubungan antar actor yang berperan dalam konflik agraria sangat jelas terlihat melalui perkembangan mode produksi ( mode of production ). Gambaran produksi sebagai system ekonomi secara keseluruhan melibatakan sekaligus actor-aktor yang berperan dalam konflik agrarian sejak masa prakapitalisatau atau feudal, masa colonial, dan pasca colonial.

System feudal prinsipnya mengutamakan hubungan yang erat antara raja dan tuan-tuan tanah dalam pengurus Negara. Kekuasaan para bangsawan tersebut lebeih berdasar pada jumlah cacah yang sesuai dengan prinsip bersatunya kawula dan gusti sehingga dalam struktur masyarakatnya terlihat pengelompokan menurut kelas tertentu. Seberapa besara seseorang menguasai tanah tergantung dari seberapa banyak ia mampu merekrut tenaga kerja. Sumber-sumber ekonomi secara politis dikuasai feudal dan petani hanya sebagai penggara dengan berbagai kewajiban kepada raja yang sifatnya mengikat. Perubahan funsi tanah dari alat produksi untuk konsusmsi si penggarap menjadi alat produksi untuk mencapai surplus  maksimal menyebabkan tingkat eksploitasi tinggi pada faktor produksi yakni tanah dan tenaga kerja (penggarap).

Kebebasan rakyat dalam memilih tanaman komoditas pada masa sewa tanah tidak menjadikan posisi tenaga kerja semakin baik karena penghapusan system feudal dalam system ini bukan sebagai salah satu upaya melepaskan petani dari system feudal melainkan bentuk pemerasan dari tergantikannya posisi raja ke tangan pemerintah colonial. Melalu system tanam paksa, jumlah buruh justru semakin meningakat akibat kebutuhan akan tenaga kerja desa untuk kebutuhan berbagai beban cutur stelsel meningkat sementara pembukaan tanah-tanah baru dibatasi sehingga tanah-tanah yang sudah ada menjadi semaki kecil karena terbagi-bagi.

Konflik-konflik tanah yang sifatnya internal dan bentuknya horizontal muncul mewarnai perkembangan mode produksi populis yakni antara para buruh tani dan petani-petani kecil, melawan tuan-tuan tanah, petani-petani kaya, dan pengasa perkebunan. Eksploitasi terhadap rakyat dan tanahnya merupakan sumber-sember kekayaan melimpah bagi penjajah, sementara rakyat di tanah jajahan menderita karena miskinnya sumber daya agrarian yang mereka kuasai untuk kebutuhan konsumsi. Banyak terjadi pelanggaran hak-hak rakyat atas tanagh-tanah yang semula digarap petani turun-temurun. Sementara itu, motivasi-motivasi petani melakukan perlawan dan pemberontakan terhadap kekuatan modal pada masa colonial maupun masa orde baru sangat erat kaitannya dengan faktor kepentingan petani atas tanah-tanah tersebut.



praktikum 3 sosped

Ranah Kajian Sosiologi Pedesaan

Oleh: Tjondronegoro

Hubungan pedesaan dan perkotaan bertambah erat dengan cepat dan tidak hanya ditentukan oleh jarak tetapi dipengaruhi oleh pemenuhan kebutuhan daerah pedesaan yang berorientasi pada kota. Ketergantungan masyarakat desa dari kota tumbuh dengan ekonomi uang yang menyebar dari daerah perkotaan. Pertambahan penduduk yang pesat membuat sektor pertanian semakin sempit dan mengakibatkan masyarakat desa merantau ke kota untuk mencari pekerjaan.

Masyarakat masih beranggapan bahwa orang pedesaan hidup tenang, rukun, dan saling gotong-royong. Namun realita yang terjadi adalah telah terjadinya pelapisan dan perbedaan yang menyangkut kepentingan antar golongan, perbedaan pemilikan, atau penguasaan modal lain. Sebagai contoh, adanya kebutuhan akan uang tunai yang meningkat, petani kecil yang masih memiliki tanah sawah menjual sawahnya tersebut dan mencari pekerjaan di luar pertanian atau menjadi penggarap di lahan bekas lahan miliknya sendiri. Orang yang mempunyai modal dan tidak berminat banyak terhadap pertanian dapat memperluas milik tanahnya. Golongan elit desa termasuk ke dalam golongan ini sehingga kerukunan yang seharusnya ada menjadi semakin renggang dengan masalah adanya penguasaan tanah.

Pendekatan ke masyarakat desa adalah hal tersulit yang harus dilakukan untuk dapat diterima di lingkungan pedesaan. Biasanya pendekatan dengan pamong desa menjadi hal yang paling sering dilakukan namun ternyata tidak selalu pemimpin tersebut mewakili masyarakat desa. Mendekati masyarakat desa membutuhkan pengertian terhadap pola antar-hubungan karena desa bukanlah lagi satu kesatuan yang utuh melainkan telah terdapat lapisan yang menjadi minoritas dan yang dipengaruhi oleh elit desa.

Pengertian desa di Indonesia yang dapat dipandang dari berbagai aspek membuat banyak studi yang meneliti mengenai pedesaan sejak zaman penjajahan sampai setelah Indonesia merdeka. Topik yang dibahas secara garis besar adalah mengenai penduduk desa yang cenderung kurang makmur dibandingkan dengan  masyarakat perkotaan. Dalam hal ini walaupun mereka memiliki lahan pertanian yang luas, memiliki kegiatan di sektor pertanian tidak membuat mereka terbebas dari kekurangan pangan dan kemiskinan.

Seiring berkembangnya waktu, dalam masa krisis ini, yang perlu dibantu adalah pedesaan yang kekurangan tanah, memiliki kepadatan penduduk yang tinggi, dan memiliki kebutuhan lahan yang terbatas. Selain bantuan teknis, dan bantuan teknologi baru yang dibutuhkan, lantas tidak langsung cukup untuk keberhasilan pertanian, namun setelah pengembangan kebutuhannya dipenuhi mutu petani itu sendiri pun perlu ditingkatkaan untuk menyeimbangkan dan menyelaraskan ketiganya.

Tolak ukur untuk menilai warga desa selain dari apa yang biasa dilakukannya sehari-hari sebagai mata pencahariannya juga dapat dilihat dari kepemilikan atau penguasaan tanah garapan. Warga yang memiliki tanah yang luas dan memiliki buruh utuk menggarap lahannya berada di golongan atas. Warga yang berkecukupan termasuk golongan tengah. Sementara warga yang mengerjakan lahan orang lain karena tidak memiliki tanah sendiri dan menerima upah dari hasil menggarap termasuk golongan bawah.

Penggolongan desa menurut faktor alam secara terperinci masih merupakan suatu kemewahan dalam pembangunan. Penggolongan desa menurut suatu sistem scoring faktor alam sebenarnya lebih bermanfaat untuk pemerintah di atas desa daripada untuk desa sendiri. Sistem skoringbisa untuk membandingkan potensi beberapa daerah untuk menentukan prioritas. Yang lebih penting adalah manfaat apa yang dapat diambil dari potensi alam di desa bersangkutan untuk meningkatkan daya guna terhadap pemanfaatan potensi. Dengan scoring faktor alam sebenarnya belum ada gambaran mengenai bagaimana kemampuan penduduk setempat memanfaatkan sumber-sumber alam yang tersedia. Ada sejumlah indicator yang secara lebih nyata mencerminkan kemampuan alam setelah dikelola dan dimanfaatkan oleh penduduk. Kesimpulannya adalah prioritas faktor alam ditempatkan relative lebih rendah dari faktor sosekbud, penyempurnaan klasifikasi kami usulkan dalam arti penyederhanaan data dan indikator yang pada umumnya bersifat kualitatif tetapi menggali dari pengalaman penduduk setempat, pengumpulan data faktor alam tidak dilakukan oleh pamong desa saja tetapi juga oleh dukuh dengan memanfaatkan tenaga terpelajar di desa.

Masyarakat Petani dan Kebudayaan

Oleh: Redfield

 

Kota berperan sebagai suatu konstelasi masalah-masalah sosial dan masyarakat imigran. Dua hal tersebut merupakan dua jenis kenyataan sosial yang cenderung membangkitkan berbagai pernyataan abstrak mengenai hakekat berbagai ilmu tersebut. Pada mulanya, perhatian utama dari studi kelompok primitive ini adalah suatu kesatuan yang berdiri sendiri dan dipisahkan dari kelompok lainnya. Serta dianggap tidak ada kaitannya dengan apa pun yang jauh berada di luar dirinya.

Namun, seiring berjalannya waktu, ahli-ahli antropologi tidak lagi mempelajari masyarakat primitive terasing, hanya mengarahkan pandangannya terhadap masyarakat-masyarakat yang membentuk sistem alamiah yang utuh dan tidak lagi bekerja sendirian. Selain itu para ahli antropologi telah melihat bahwa komunitas (masyarakat primitive) merupakan bagian dari keseluruhan kemasyarakatan dan budaya yang lebih besar dan lebih majemuk.

Bila kita memasuki suatu desa dalam suatu siviliasi segera kita lihat bahwa kebudayaan di sana telah mengalir ke dalamnya dari guru-guru dan tokoh-tokoh yang tidak pernah melihat desa tersebut, yang melakukan karyanya di dalam lingkaran-lingkaran intelektual yang mungkin jauh dari segi waktu maupun jarak. Selain itu tradisi besar dan tradisi kecil sudah lama saling mempengaruhi dan tergantung.

Secara umum, di setiap bagian di dunia, kaum tani menjadi faktor yang konservatif di dalam perubahan sosial, rem dalam revolusi, pengecek dalam disintregrasi dalam masyarakat lokal yang kadang datang dengan perubahan teknologis yang cepat. Petani kini ingin menjadi sesuatu yang lain daripada petani. Mereka ditarik oleh kota ke dalam pekerjaan industri. Pada saat ini, petani dan antropolog sama-sama berubah.

DESA : Tinjauan, Problematika dan Agenda Masa Depan

Oleh: Sofyan Sjaf

Desa merupakan suatu tempat yang jauh dari perkotaan dimana masyarakatnya masih kental akan adanya kegiatan kebersamaan, gotong royong, dan mempunyai area persawahan dan ladang yang terhampar luas. Pada bacaan tersebut dinyatakan bahwa kondisi desa sangatlah jauh berbedadari perkotaan, hal tersebut diperkuat dengan bukti tidak adanya plaza atau sualayan seperti di kota, serta masih asrinya suasana di desa ketimbang di kota. Penggambaran tabiat manusia yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lain pun sangat jelas dimunculkan pada karakteristik masyarakat di desa.

Dalam bacaan ini terdapat beberapa pakar yang menerangakan definisi desa, diantaranya desa dapat dipandang sebagai suatu kesatuan hukum masyarakat yang berkuasa untuk mengadakan pemerintahan sendiri. Disisi lain Kartohadikoesoemo mengemukakan definisi desa yang melengkapi definisi pakar sebelumnya dengan mengkalasifikasikan desa menjadi beberapa definisi  yakni : (1) desa dalam tinjauan geneo-logis, territorial dan campuran  desa dari tinjauan geneologis lebih menekankan kepada hubungan kekerabatan atau keturunan  sedangkan tinjauan territorial lebih menekankan kepada hubungan tinggal dekat.  Sementara itu, desa dari tinjauan campuran adalah gabungan dari dua diktum yang telah disebutkan sebelumnya. (2) desa dalam tinjauan sosiologis Desa digambarkan sebagai suatu bentuk kesatuan masyarakat atau komunitas yang bertempat tinggal dalam suatu lingku-ngan dimana mereka saling mengenal dan corak kehidupan mereka relatif homo-gen serta banyak tergantung dengan alam.  (3) desa dalam tinjauan ekonomi adalah wilayah yang penduduk atau masya-rakatnya bermatapencaharian pokok dalam di bidang pertanian, bercocok tanam atau agraria, atau nelayan (4) desa dalam tinjauan politik dan hukum artinya desa mempunyai otoritas dan otonomi dalam mengurus rumah tangganya sendiri tanpa intervensi pihak luar.

Bila dipandang dari realitas keadaan di desa, pada dasarnya kondisi di desa memang jauh berbeda dari perkotaan sehingga masyarat pedesaan sangat identik dengan keterbelakangan sehingga pada akhirnya pendapatan pertanian, dan ekonomi masayarakat pedesaan yang dikuasai oleh kaum kapitalis atau perkotaan kurang memadai bahkan tidak mengalami peningkatan. Namun bila dipandang dari sisi lain, kenyataanya mayoritas masyarakat Indonesia berasal dari masyarakat pedesaan yang justru dapat menopang masyarakat perkotaan, karena semua sumber pertanian yang diguankan sebagai bahan pangan mereka berasal dari desa. Dalam hal inilah, diperlukan adanya pembangunan desa untuk pendukung perekonomian dan kesejahteraan suatu desa.

Batasan Definisi Petani (PEASENT)

Oleh: Sofyan Sjaf

Seingkali istilah peasent disamakan dengan istilah petani (farmer), padahal sebenarnya petani (farmer) dengan peasent itu berbeda baik dati tinjauan ideologi, ekonomi, geografis, dan sosial budaya. Berdasarkan pendekatan ideologi, peasent merupakan aktivitas yang mempunyai ideologi yang menyangkut kodrat pengalaman mausia yang terdiri dari perbuatan-perbuatan, upacara dan kepercayaan serta perangkat perbuatan dan gagasan untuk memenuhi beberapa fungsi. Dilihat dari pendekatan geografis peasent merupakan masyarakt yang hidup di daerah pedesaan dan mengolah tanah dengan bantuan keluarganya sendiri, dan dipengaruhi oleh kaum bangsawan atau orang kota.

Selain itu perbedaan peasent dan petani dapat dianalisis dengan pendekatan ekonomi dan sosio-kultural. Dilihat dari pendekatan ekonomi, menurut Firth, peasent didefinisikan sebagai masyarakat petani yang identik dengan kesederhanaan, menggunakan teknologi yang sederhana, tenaga kerja yang sederhana, berhubungan dengan pasar terbatas namun alat produksinya dikuasai secara non kapitalistik. Definisi tersebut ditentang oleh Wolf dan Elis, menurutnya peasent hidup dari pusaha pengolahan tanah milik sendiri. Peasent identik dengan usahatani berskala rumah tangga, sedangkan farmer bersifat komersial.

Dilihat dari sosio-kultural, pendefinisian peasent dapat dilihat dari hubungannya dengan kota, apakah dia merupakan masyarakat primitif atau petani farmer. Tidak ada peasant sebelum ada kota (Refield, 1953). Peasent lebih tinggi dari masyarakat primitif, namun lebih rendah dari petani farmer. Dapat dikatakan peasent sesuai dengan posisi buruh tani itu sendiri, dapat dikatakan petani jika tidak mempunyai lahan namun bekerja dalam bidang pertanian. Dilihat dari sosial-ekonomi-politik-budaya, peasent mengolah lahan dengan bantuan keluarga, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan petani farmer mengolah lahan dengan bantuan buruh kerja, dan bertujuan untuk memperoleh keuntungan.

Jawaban Pertanyaan Analisis:

 

  1.             Desa adalah bentuk masyarakat kecil di daerah pedesaan yang luas: desa, dusun, dusundati, kampong, dan lain-lain (Koentjoroningrat 1964). Menurut Soetardjo, desa dapat mempunyai lokasi yang berbeda-beda dari mulai masyarakat nelayan hingga peladang. Merujuk pada bacaan yang berjudul desa “Tinjauan, Problematika dan Agenda Masa Depan” dan lagu yang di ciptakan oleh AT. Mahmud, dapat digambarkan bahwa desa pun dapat diartikan sebagai tempat yang jauh dari perkotaan, memiliki lingkungan yang masih bersih alami, memiliki hamparan persawahan yang luas, serta masih tingginya semangat bergotong royong antar sesama (hal tersebut merujuk pada bacaan pertama). Sedangakan menurut Soetardjo Kartohadikoesoemo desa berarti kesatuan hukum suatu masyarakat yang berkuasa me-ngadakan pemerintahan sendiri ( hal 46 – 47 ).

Kartohadikoesoemo menambahkan pernyataan Soetardjo Kartohadikoesoemo bahwa desa adalah satu tempat kediaman masyarakat saja, ataupun beberapa tempat kediaman sebagian dari masyarakat hukum yang terpisah dan membentuk suatau kesatuan. Menurutnya juga terdapat beberapa definisi desa menurut empat hal penting definisi desa yaitu: (1) desa dalam tinjauan geneo-logis, territorial dan campuran; (2) desa dalam tinjauan sosiologis; (3) desa dalam tinjauan ekonomi; dan (4) desa dalam tinjauan politik dan hukum. (Halaman 46 – 47). Desa pun memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kebutuhan akan sumberdaya untuk bertahan hidup, selain itu kaitan erat dengan agama dan kebudayaan pun menjadi cirri khas tentang desa.

 

Pendekatan

Peasent

Farmer

  1. Ideologi
Aktivitas yang mempunyai pengertian simbolik suatu ideology yang menyangkut kodrat pengalaman manusiawi, seperti upacara dan kepercayaan, perangkat perbuatan untuk memenuhi fungsi. -
  1. Geografis
Mengolah lahan sendiri dengan cara sederhana, hidup menetap di pedesaan dan berhubungan dengan kaum bangsawan atau orang kota. -
  1. Ekonomi
Usahatani yang berskala rumah tangga. Usahatani yang bersifat komersial.
  1. Sosial-kultural
Mengolah lahan dengan bantuan keluarga sendiri, dengan cara sederhana dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mengolah lahan dengan bantuan buruh tani, dengan tujuan memperoleh keuntungan.

 

Merujuk perbandingan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, untuk membedakan pendefinisian antara peasent dan farmer dapat dilihat dari sifat usaha tani mereka, sifat usaha pertanian peasent berupa pengolahan lahan/tanah dengan bantuan keluarga sendiri untuk untuk menghasilkan bahan makanan bagi keperluan kehidupan sehari-hari mereka atau dapat dibilang memiliki cara hidup subsistensi. Sedangkan petani farmer sebaliknya, pengelolaan lahan pertanian yang mereka lakukan dikerjakan dengan bantuan tenaga buruh tani, mereka pun menjalankan produksi dalam rangka mencari keuntungan dan hasil produksinya dijual untuk memperoleh uang, bukan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

 

  1.            Merujuk pada bacaan Masyarakat Petani dan Kebudayaan (Redfield) halaman 60 disebutkan bahwa, “bila kita memasuki suatu desa dalam suatu siviliasi segera kita lihat bahwa kebudayaan di sana telah mengalir ke dalamnya dari guru-guru dan tokoh-tokoh yang tidak pernah melihat desa tersebut, yang melakukan karyanya di dalam lingkaran-lingkaran intelektual yang mungkin jauh dari segi waktu maupun jarak”.

Hal ini berarti hubungan masyarakat desa dan kota dari segi kebudayaan saling tergantung dan saling mempengaruhi satu sama lain. Pada bagian lain bacaan ini juga disebutkan bahwa dari segi kebudayaan tradisi dari pemikiran reflektif dapat diterima oleh kaum tani dan ditafsirkan kembali menurut tafsiran setempat.

Selain itu, pada halaman 91 dijelaskan pula “lingkungan kaum tani cenderung untuk menghasilkan”. Hal ini berarti hubungan interaksi desa dan kota adalah hubungan yang kuat. Masyarakat desa cenderung dibentuk untuk menghasilkan sumberdaya bagi masyarakat kota. Untuk memaksimalkan sumberdaya yang dihasilkan di desa, di kota dikembangkan teknologi dan pemikiran-pemikiran yang dapat diadopsi di desa. Dapat dikatakan bahwa sumberdaya yang ada di desa digunakan untuk menopang kebutuhan di kota, sedangkan untuk memaksimalkan sumberdaya di desa, dipakailah pemikiran dan teknologi dari kota. Jadi hubungan interaksi antara desa dan kota masing-masing saling berhubungan dan terdapat ikatan yang kuat satu sama lain.



sosped sbg ilmu pengetahuan

Kampung Carang Pulang merupakan salah satu desa yang termasuk dalam kawasan desa lingkar kampus Institut Pertanian Bogor, yang tepatnya terletak di Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor. Kampung ini terletak tidak jauh dari Institut Pertanian Bogor, hanya dengan menempuh waktu perjalanan 15 menit dari gerbang belakang IPB kita dapat sampai ke kampung ini. Akses untuk sampai ke kampung ini tidaklah mudah, karena harus melewati persawahan dan kebun bambu. Selain itu tidak terdapat angkutan umum untuk sampai ke kampung ini, sehingga kita harus menggunakan ojeg, ataupun kendaraan pribadi untuk menjangkau kampung ini. Walaupun jalan utama untuk mencapai perbatasan masuk kampung ini sudah beraspal dan dapat dilewati mobil, tetapi jalan masuk ke Kampung Carang Pulang khususnya kawasan RW 7 masih berbatu dan hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua.

Kampung Carang Pulang RT 1 RW 7 ini terdiri dari 47 kepala keluarga. Menurut penuturan Bapak Iyus Komarudin selaku ketua RT 01, 90% warga Kampung Carang Pulang adalah penduduk asli, sedangkan minoritasnya adalah pendatang yang berasal dari Bandung, Jakarta, dan daerah sekitar Jawa Barat. Sesuai kondisi geografis kampung ini yang sebagian besar lahannya dimanfaatkan sebagai persawahan, pekerjaan warga di kampung ini pun kebanyakan berprofesi sebagai buruh tani yang sebagian menggarap sawahnya sendiri dan sebagian lagi menggarap sawah orang lain. Hasil pertanian yang di produksi dari kampung ini pun beragam, mulai dari padi jenis biasa, singkong, jagung, serta ubi. Dalam pemanfaatan hasil pertanian yang didapat, biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri ketimbang dijual kepada tengkulak yang hanya dijual sebagai barang mentah dan diberi nilai rendah. Warga Kampung Carang Pulang ini pun masih menggunakan sistem pertanian tradisional, walaupun dekat dengan institusi pendidikan, Bapak Iyus pun mengaku bila belum menerima bantuan ataupun program pembangunan baik itu dari pemerintah, swasta, maupun publik. Sedangkan untuk warga yang tidak mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk mengakses profesi dibidang pertanian terdapat profesi lain seperti buruh cuci di Perumahan Dosen IPB, peternak kambing, usaha warung kecil-kecilan, dan kuli bangunan.

Dari segi pendidikan, rata-rata pendidikan terakhir yang ditempuh warga Kampung Carang Pulang ini adalah SMA. Kebanyakan warga yang menganggur dan mayoritas berprofesi sebagai petani karena tidak mempunyai ijazah untuk melamar pekerjaan di kota. Sedangkan dari segi kesehatan, kesehatan di kampung ini terbilang cukup baik. Posyandu terpusat pun rutin diadakan dan masyarakat antusias untuk mengikuti pemeriksaan yang diadakan sebulan sekali. Selain itu, karena kampung ini terbilang bersih dan juga menggalakan kerja bakti disaat kampung dirasakan kotor, di kampung ini tidak pernah terjangkit penyakit mewabah yang dapat menyerang warganya.

Solidaritas di kampung ini pun terbilang cukup tinggi, menurut penuturan salah satu responden yang bernama Ibu Yuyun selaku warga, saat terjadi musibah alam seperti tanah longsor dan banjir warganya saling tolong menolong untuk membantu korban tanah longsor dan banjir. Dalam segi partisipasi pun dirasakan masih sangat kental dalam kampung ini, karena setiap diadakan kegiatan apapun di RT ini, warga selalu ikut berpartisipasi dan antusias untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, contohnya kerjabakti, dan pengajian yang masih rutin diadakan setiap minggunya di masjid setempat.

Kelembagaan dalam ilmu sosiologi seringkali ditekankan dan berkaita pada norma, tingkah laku, dan adat istiadat. Pada kampung ini pun sudah terbangun sebuah kelembagaan secara transparan dengan partisipasi dari warga pada setiap kegiatan yang dilakukan. Bahkan diperkuat dengan masih melekatnya norma-norma serta adat yang berlaku di desa tersebut. Contohnya seperti pekumpulan ibu-ibu berupa pengajian yang rutin di lakukan setiap hari Kamis, dan kelompok anak muda yang biasa melakukan ronda, serta karang taruna. Kegiatan pengajian pun dilaksanakan oleh anak-anak. Strata sosial yang terjadi dalam desa tersebut pun tidak memicu konflik dimana budaya yang mereka anut bahwa disana mereka hidup bersama saling menolong satu sama lain yang akhirnya pun menjaga budaya gotong royong hingga masih kental seperti gotong royong saat terjadi musibah banjir dan longsor yang kerap kali melanda desa ini. Walaupun bila ditinjau dari mayoritas pekerjaan sebagai petani namun belum terbentuknya gabungan kelompok tani tingkat RT, karena baru terbentuk pada tingkat desa.

Terkait dengan pandangan sosiologi dalam sosiologi pedesaan, Dalam perkembangannya sosiologi pedesaan memiliki dua cakupan definisi dan dua cakupan bahasan. Pada awal mula pembentukannya sosiologi pedesaan yang mencakup interaksi dan hubungan sosial masyarakat pedesaan. Objek kajian sosiologi pedesaan yang menjadi pembahasan adalah penyuluhan. Sosiologi dan ilmu sosialnya membahas mengenai interaksi dan fenomena kemasyarakatan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Adapun teori dan pendekatan yang dilakukan dalam sosiologi yaitu, teori koherensi, teori korespondensi, teori empiris, dan teori pragmatis (Kattsoff 2004).

Dari hasil Observasi di kampung Carang Pulang yang terletak di RT 01 RW 07, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, terdapat bberapa teori yang selaras dan  bersangkutan dengan kedaan dalam daerah tersebut, seperti teori korespondensi dimana kebenaran atau keadaan benar berupa kesesuaian antara makna yang dimaksudkan oleh suatu pernyataan dengan apa yang sungguh-sungguh, atau apa yang merupakan fakta-faktanya, serta teori pragmatis dimana proporsi-proporsi yang membantu kita mengadakan penyesuaian-penyesuaian yang memuaskan terhadap pengalaman-pengalaman kita.

Dalam teori korespondensi kebenaran penurturan Pak Iyus selaku ketua RT selaras dengan fakta-fakta yang terdapat dilapangan, contohnya dalam hal proporsi penduduk yang sesuai dengan penuturan Ibu Yuyun, serta pengamatan kami dilapang dimana memang sebagian besar penduduk RT 1 sebagian besar merupakan penduduk asli yang masih kental akan logat dan budaya sundanya. Selain itu perihal profesi warga di RT ini pun terbukti berprioritas sebagai petani dan peternak, hal tersebut dapat dilihat dalam kondisi geografis kawasan desa yang memang masih banyak terdapat sawah dan ketika kami observasi dan berkeliling untuk melihat keadaan serta mencari  responden kami mengalami sedikit kesulitan, karena pada waktu itu warga kampung sedang berada di sawah atau lading untuk menggarap sawahnya ataupun “ngarit”. Sedangkan, bila ditinjau dalam teori pragmatis, penuturan dari responden kami memang selaras dengan kenyataan-kenyataan dilapang karena kami selaku peneliti telah mengadakan observasi pula sebelumnya sehingga dapat melihat bila ada ketimpangan atau perbedaan penjelasan antara responden kami dengan keadaan di lapang.

Adapun bila ditinjau melalui kenyataan dalam sosiologi yang terbagi menjadi lima: kealaman (naturalisme), kenyataan benda mati (materialisme), kenyataan bersifat kerohanian (idealisme) Hylomorfisme, dan positivism logis. Dari hasil observasi di kampung Carang pulang terdapat dua kenyataan yang sesuai, yakni kenyataan naturalism yang merupakan kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satan-satuan penyusunan kenyataan yang ada dan senantiasa dapat dialami oleh manusia biasa. Seperti halnya yang terjadi di kampung Carang Pulang yakni warga Kampung Carang Pulang masih menggunakan pertanian tradisional. Hasil pertaniannya berupa padi, singkong, dan ubi. Hasil pertanian biasanya digunakan untuk konsumsi sendiri, dan warga yang beternak kambing biasanya di jual di hari raya idul adha. Serta kenyataan yang ke dua adalah kenyataan bersifat kerohanian (idealism) yakni kejadian-kejadian yang nampak dalam kehidupan



agraria

Lingkup Agraria (MT. Felix Sitorus)

Rujukan mutakhir yang dapat menjadi sumber salah faham tentang lingkup agraria boleh jadi adalahTAP MPR RI No.IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Butir (a) konsideran (menimbang) pada TAP tersebut saja sudah berpotensi menimbulkan kekacauan pengertian karena menyamakan lingkup “sumber daya agraria” dan “sumber daya alam” yaitu  meliputi bumi, air, ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Jika merujuk pada asal-usul dan arti kata agraria, yaitu ager (Latin) yang berarti lapangan, pedusunan, atau  wilayah, sudah terang bahwa sumber agraria tidak semata-mata menunjuk pada tanah. Suatu bentangan lapangan, pedusunan, atau wilayah,  mestilah terdiri dari aneka unsur meliputi tanah, air, tumbuhan, hewan, bahan mineral/tambang,udara, dan lain-lain. Jika merujuk pada pengertian dasar ini, jelasbahwa batasan lingkup agraria menurut TAP MPR RI No.IX/MPR/2001 sangat reduktif.

Batasan sumber agraria menurut UUPA 1960 (UU No.5/1960) justru sesuai dengan pengertian dasar agraria yaitu seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya (Pasal1 ayat 2). Dengan merujuk pada UUPA 1960 itu, dapatlah ditarik kesimpulan perihal jenis-jenis sumber agraria sebagai berikut:

a)       Tanah, atau permukaan bumi. Jenis sumber agraria ini adalah modal alami utama dalam kegiatan pertanian dan peternakan.

b)      Perairan, jenis sumber agraria ini adalah modal alami utama dalam kegiatan perikanan; baik perikanan sungai maupun perikanan danau dan laut.

c)      Hutan. Inti pengertian “hutan” disini adalah kesatuan flora dan fauna yang hidup dalam suatu wilayah (kawasan) di luar kategori tanah pertanian

d)     Bahan tambang. Jenis sumber agraria ini meliputi ragam bahan tambang/mineral yang terkandung di dalam “tubuh bumi” (di bawah permukaan dan di bawah laut).

e)      Udara. Jenis sumber agraria ini tidak saja merujuk pada “ruang diatas bumi dan air” tetapi juga materi “udara” (CO2) itu sendiri.

 

Lingkup subyek agraria meliputi tiga kategori sosial penguasa atau pemilik dan pemanfaat (pengguna) sumber-sumber agraria, yaitu komunitas, swasta, dan pemerintah. Ketiga pihak subyek tersebut memiliki hubungan teknis agraris atau hubungan kerja dengan sumber-sumber agraria, yang artikulasinya berbeda antara satu dan lain subyek menurut orientasi kepentingan sosial ekonominya. Selain memiliki hubungan teknis agraris, antara satu dan lain subyek juga terjalin hubungan sosial agraris yang berpangkal pada perbedaan-perbedaan akses (penguasaan/pemilikan/pemanfaatan) terhadap sumber-sumber agrariaPola-pola hubungan social antara subyek-subyek agaria tersebut berbeda dari satu ke lain masyarakat menurut variasi dalam tipe struktur agraria. Tipe-tipe struktur agrarian kapitalis, sosialis, dan populis/neo-populis akan menampilkan pola-pola hubungan sosial agraris yang bersifat spesifik.

 

Masalah Tanah dalam Tinjauan Sosiologi

 

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, masalah pertanahan pada umumnya sudah diraskan sebagai maslah nasional yang krausial. Dalam zaman penjajahan , terlebih di jawa sejak awal abad 19, tetapi kemudian juga di beberapa kantong di Sumatra , sudah terbukti betapa asset nasional tanah dan petani-petani kita itu menentukan tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia. Pemecaha masalah-masalah tanah bila ditinjau dari sudut pandang sosiologi berarti pemecahan yang dimulai dengan menganalisa hubungan antar golongan atau lapisan masyarakat yang menguasai tanah dan asset atau modal lain, dilanjutkan dengan mengubah hubungan-hubungan tersebut. Artinya, harus dipahami adanya lapisan yang penguasaanya kuat ada pula yang lemah atau sama sekali tidak mempunyai kuasa apapun sehingga menjadi sangat tergantung. Dasar kekuasaan tersebut biasanya terdiri atas suatu kombinasi faktor-faktor polotik , ekonomi, dan social.

Dari satu studi yang dilakukan oleh Said Rusli dkk (1993) di 15 kabupaten di Indonesia, ternyata lembaga sewa-menyewa belum juga popular selama 30tahun lebih setelah reforma agrarian dimulai. Berarti sakap-menyakap masih lebih banyak terjadi daripada sewa-menyewa tanah. Sudah terlalu sering ditulis dan diperdengarkan bahwa UUPA 1960 kita mandul, karena banyak peraturan pelaksanaan yang perlu dirumuskan dengan berawal dari UUPA tersebut belum ada. Hal ini sudah jelas menyulitkan petugas-petugas agrarian Badan Pertanahan Nasional( BPN) di lapangan karena tidak diberi acuan atau pedoman yang jelas untuk mengambil tindakan.

Sejumlah faktor ternyata menyulitkan atau paling tidak menghambar pemecahan masalah pertanahan. Setelah peristiwa G-30-S 1965. Misalnya pelaksanaan landreform dan langkah-langkah lain reforma agraria dibekukan dan perhatian dialihkan kesektor pembanguanan lain sepertirehabilitasi pengairan, prasarana, perkebunan, dan peningkatan produksi pertanian pada umumnya. Sementara itu, proses pembangunan nasional berlangsung terus menerus dan banyak program membutuhkan areal tanah. Akan tetapi, tingkat kesulitan memperoleh tanahpun terus meningkat, terutama untuk proyek-proyek besar.

Saran kebijaksanaan oprasional jangka pendek antara lain : (a) Diperlukan wajib daftar dikantor Subdirektorat bagi semua pemilikan tanah, dengan prioritas tanah-tanah di daerah-daerah pembukaan baru dan daerah pengembangan yang akan dibuka dalam waktu dekat, (b) Legalisasi pemilikan tanah menurut UUPA akan memudahkan usaha mendapatkan kredit, mencegah penyeludupan, hokum seperti, tanah guntai (absentee), pemilikan melebihi batas maksimum, jual beli dibawah tangan ,(c) Transaksi jual beli yang tidak dilakukan menurut prosedur yang telah ditetapkan, akan dijatuhi sanksi hokum, yaitu pembatasan transaksi secara sendirinya, dll.

Dibawah tekanan yang timbul dari kebutuhan akan tanah untuk pembangunan, pemerintah tidak berhenti mencari pemecahan masalah-masalah agrarian. Pada Kepala BPN menggariskan tujuh prioritas utama : (1) penyelesaian system agraria dan perbaikan pemberian pelayanan kepada masyarakat, (2) perbaikan pemberian informasi tentang pertanahan, (3) mempercepat registrasi tanah, (4) menyiapkan invertori tentang perselisihan-perselisihan tanah, (5) penyelesaian prasarana hokum yang diperlukan, (6) menentukan prosedur-prosedur dalam penyelesaian masalah dan perselisihan tanah, dan (7) menggagalkan penyuluhan

 



Kembalii

Taraaaaaaaa…

haaay kawan kembali nih wi setelah setu tahun gak nyentuh blog sama sekali, malah udah lupa klo punya blog di student IPB ini,haha. sekarang wi udah semester $ nih semoga di semester 4 IP nya bisa 4 yaah, amien.

Tahu gak wi kembalii ke blog ini karena sekarang wi ngambil mata kuliah penerapan komputer nih dimna pertemuan pertama ini di awali dengan pembuatan blog, makanya seluruh mahasiswa diharuskan membuka blog yang dulu pernah dibuat waktu TPB. tapi wi seneng deh karena udah KEMBALI pada blog ini mulai sekarang wi akan mencurahkan segala isi hati wi pada blog ini ^,^



Hello world!

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!